Alkisah pada suatu ketika bangsa Yahudi pernah memiliki sebuah negeri. Setelah berpuluh-puluh tahun menjadi kaum tertindas di Mesir pada era Fir'aun, mereka akhirnya dibebaskan oleh Musa AS (Moses) dari penderitaan panjangnya. Namun karena ketidakpatuhan mereka terhadap Tuhan akhirnya mereka kembali terlunta-lunta. Kemudian mereka mendapatkan kembali masa keemasannya pada era Daud AS (David) dan berpuncak pada era Sulaiman AS (Solomon), pada masa nabi yang dikenal sangat kaya raya ini mereka mencapai puncak kejayaan. Namun sayang aduhai sayang, lagi-lagi, bangsa ini kembali terlunta-lunta, kerajaan ini pecah menjadi akibat nafsu anak-anak Solomon. Negeri itu kemudian menjadi lemah dan dijajah oleh yang lebih berkuasa. Mereka diusir sebagai orang buangan oleh Nebukadnezar, bangsa Babilonia, kemudian dijajah oleh Romawi dan terakhir, dimusnahkan oleh Hitler melalui tangan-tangan NAZI atau lebih dikenal dengan sebutan HOLOCAUST.
Yaks, Holocaust. Sebuah kata yang sangat populer... Sebenarnya apa sih holocaust itu? Ehm, sebagian besar presepsi orang sekarang, holocaust adalah "pembantaian 6 juta orang Yahudi yang dilakukan oleh NAZI pada masa PD II", tetapi, presepsi itu sangatlah ngawur, nggak komplit, kepotong, dan diskriminatif. Pada dasarnya definisi dari Holocaust adalah sebagai berikut:
Holocaust(dari bahasa Yunani: holokauston yang berarti "persembahan pengorbanan yang terbakar sepenuhnya") adalah genosida sistematis yang dilakukan Jerman Nazi terhadap berbagai kelompok etnis, keagamaan, bangsa, dan sekuler pada masa Perang Dunia II.
Selain kaum Yahudi, kelompok-kelompok lainnya yang dianggap kaum Nazi "tidak disukai" antara lain adalah bangsa Polandia, Rusia, suku Slavia lainnya, penganut agama Katolik Roma, orang-orang cacat, orang cacat mental, homoseksual, Saksi Yehuwa (Jehovah's Witnesses), orang komunis, suku Gipsi (Roma dan Sinti) dan lawan-lawan politik. Mereka juga ditangkap dan dibunuh. Jika turut menghitung kelompok-kelompok ini dan kaum Yahudi juga, maka jumlah korban Holocaust bisa mencapai 9-11 juta jiwa.
Sekarang, mari kita bahas sedikit tentang angka 6 juta jiwa yang sangat fantastis dan sering diusung2 oleh kaum Zionis untuk membenarkan langkah-langkahnya di panggung politik dunia. Benarkah 6 juta jiwa??
Salah satu kritikan tentang Holocaust adalah mengapa di antara sekian banyak tindak kejahatan pada era Perang Dunia Kedua, hanya pembantaian orang-orang Yahudi yang diprioritaskan sedemikian besar. Dalam perang dahsyat ini, lebih dari 40 juta orang tewas yang 20 juta di antaranya adalah warga Uni Soviet. Tak kurang dari 200 ribu warga Jepang tewas akibat bom atom yang dijatuhkan AS. Secara keseluruhan, separoh dari korban Perang Dunia Kedua adalah warga sipil. Selain itu, sepanjang sejarah juga terjadi tindak kejahatan sadis terhadap berbagai bangsa. Di antaranya adalah pembantaian terhadap kaum indian di AS serta 100 hingga 200 orang kulit hitam oleh orang-orang Eropa. Meski demikian, propaganda atas kekejaman tersebut tidak sebesar propaganda tentang Holocaust.
Faktor kian pelik ketika kaum Zionis mengklaim bahwa enam juta orang Yahudi itu tewas di kamp-kamp konsentrasi dan kamar gas milik Nazi. Jika hal ini memang benar-benar terjadi maka hal ini patut disesali. Namun para penentang Holocaust mencium adanya ketidakberesan dalam klaim tersebut. Seperti yang diungkapkan Profesor Faurison dalam seminar Holocaust di Teheran, secara teknis pasukan Nazi tidak dapat melakukan pembunuhan masal sistematis orang-orang Yahudi di Eropa. Faurison yang sudah banyak melakukan riset tentang keberadaan kamar-kamar gas Nazi itu akhirnya menyimpulkan bahwa klaim kelompok Zionis soal Holocaust sangat tak mendasar.
Holocaust denial atau penyangkal Holocaust (biasanya disebut revisionisme Holocaust oleh para pendukungnya) adalah kepercayaan bahwa genocide orang-orang Yahudi dan kelompok-kelompok minoritas lainnya selama Perang Dunia II –masa Holocaust– tak pernah terjadi, atau apabila benar terjadi, akibat yang disebabkan tidak sebesar apa yang diyakini pada masa sekarang. Bahkan, ada dari para penyangkal Holocaust, yang sama sekali tak percaya atas korban pada masa Holocaust, “Bagaimana mungkin 6 juta orang Yahudi dibunuh pada masa Holocaust jika hanya terdapat 3 juta jiwa orang Yahudi pada saat itu?”
Ketua Lembaga Riset Adelaide Australia, Fredrick Toben mengatakan, Nazi pernah menggunakan gas Zyklon B di kamp tahanannya namun hal itu untuk mencegah meluasnya wabah yang saat itu menjangkiti para tahanan, dan bukan dalam pembantaian. Hal ini dilakukan bukan hanya kepada orang-orang Yahudi melainkan untuk seluruh tahanan. Seorang dosen universitas Tunisia, Doktor Muhammad Juwaili mengatakan, masalah kamar-kamar gas muncul secara mendadak pasca perang tahun 1967 antara Israel dan negara-negara Arab. Klaim keberadaan kamar-kamar gas itu digunakan Israel untuk mendapatkan bantuan finansial politik dan finansial internasional dalam perang tersebut.
Masih banyak lagi bukti-bukti yang dikemukakan para cendikiawan soal ketidakotentikan klaim Holocaust. Profesor Faurison kepada para pedukung Holocaust mengatakan, “Jika Anda meyakini kebenaran Holocaust, mohon berikan bukti yang jelas tentang hal ini. Kami sudah 32 tahun menunggu bukti-bukti tersebut dan hingga kini tak satu pun bukti yang dapat dipercaya. Selama ini, bukti yang ada, tidak faktual dan bohong.
Terlepas dari bukti-bukti soal Holocaust, banyak hal baru yang diungkap oleh para cendikiawan. Antara lain adalah masalah hubungan erat kelompok Zionis dengan para pejabat tinggi Nazi. Menurut keterangan Taisar Boshe, seorang peneliti asal Jordania, faktanya adalah bahwa orang-orang Yahudi sejak awal PD II bekerjasama dengan Hitler. Hana Arent seorang penulis Yahudi Jerman mengatakan, politik nasional sosialis Nazi terhadap kaum Yahudi adalah politik pemerintahan Hitler yang sepenuhnya mendukung kelompok Zionis. Berdasarkan bukti yang ada, hingga tahun 1941 para tokoh Zionis menjalin kerjasama ekonomi dengan Nazi dan setiap tahunnya orang-orang Yahudi di Jerman dipindahkan ke Palestina.
Menurut para pengamat, pasca PD II klaim pembantaian enam juta orang Yahudi sangat menuntungkan Rezim Zionis Israel. Jerman dan Rezim Zionis Israel pada tahun 1952 menandatangani kesepakatan ganti rugi kepada para korban Holocaust hingga tahun 2020. Uang ganti rugi itu juga mencakup lembaga-lembaga Zionis yang dirugikan Nazi. Kesepakatan tersebut selain merupakan diskriminasi terhadap warga Jerman juga bentuk pemerasan oleh Rezim Zionis Israel. Faurison menilai Holocaust sebagai sumber pendapatan lembaga-lembaga Israel. Menurutnya, selain Jerman masih banyak negara Eropa lainnya yang harus membayar uang ganti rugi kepada Israel.
Dalam seminar Review of The Holocaust Global Vision di Teheran, terbukti bahwa para penentang Holocaust memiliki banyak bukti untuk menafikan keotentikan klaim tersebut. Terdapat ratusan artikel dan puluhan buku yang menentang kebenaran Holocaust. Salah satu karya anti-Holocaust paling kontroversial adalah 21 jilid buku milik Germar Rudolf. Namun sebagai imbalannya, Rudolf dijebloskan ke penjara. David Irwing, seorang peneliti asal Inggris saat ini juga meringgkuk dalam bui karena penentangannya terhadap Holocaust.
Alhasil, Holocaust adalah mitos produksi Rezim Zionis Israel yang kini sudah mulai memudar. Ini hanya soal waktu saja...
Rujukan :
Yaks, Holocaust. Sebuah kata yang sangat populer... Sebenarnya apa sih holocaust itu? Ehm, sebagian besar presepsi orang sekarang, holocaust adalah "pembantaian 6 juta orang Yahudi yang dilakukan oleh NAZI pada masa PD II", tetapi, presepsi itu sangatlah ngawur, nggak komplit, kepotong, dan diskriminatif. Pada dasarnya definisi dari Holocaust adalah sebagai berikut:
Holocaust(dari bahasa Yunani: holokauston yang berarti "persembahan pengorbanan yang terbakar sepenuhnya") adalah genosida sistematis yang dilakukan Jerman Nazi terhadap berbagai kelompok etnis, keagamaan, bangsa, dan sekuler pada masa Perang Dunia II.
Selain kaum Yahudi, kelompok-kelompok lainnya yang dianggap kaum Nazi "tidak disukai" antara lain adalah bangsa Polandia, Rusia, suku Slavia lainnya, penganut agama Katolik Roma, orang-orang cacat, orang cacat mental, homoseksual, Saksi Yehuwa (Jehovah's Witnesses), orang komunis, suku Gipsi (Roma dan Sinti) dan lawan-lawan politik. Mereka juga ditangkap dan dibunuh. Jika turut menghitung kelompok-kelompok ini dan kaum Yahudi juga, maka jumlah korban Holocaust bisa mencapai 9-11 juta jiwa.
Sekarang, mari kita bahas sedikit tentang angka 6 juta jiwa yang sangat fantastis dan sering diusung2 oleh kaum Zionis untuk membenarkan langkah-langkahnya di panggung politik dunia. Benarkah 6 juta jiwa??
Salah satu kritikan tentang Holocaust adalah mengapa di antara sekian banyak tindak kejahatan pada era Perang Dunia Kedua, hanya pembantaian orang-orang Yahudi yang diprioritaskan sedemikian besar. Dalam perang dahsyat ini, lebih dari 40 juta orang tewas yang 20 juta di antaranya adalah warga Uni Soviet. Tak kurang dari 200 ribu warga Jepang tewas akibat bom atom yang dijatuhkan AS. Secara keseluruhan, separoh dari korban Perang Dunia Kedua adalah warga sipil. Selain itu, sepanjang sejarah juga terjadi tindak kejahatan sadis terhadap berbagai bangsa. Di antaranya adalah pembantaian terhadap kaum indian di AS serta 100 hingga 200 orang kulit hitam oleh orang-orang Eropa. Meski demikian, propaganda atas kekejaman tersebut tidak sebesar propaganda tentang Holocaust.
Faktor kian pelik ketika kaum Zionis mengklaim bahwa enam juta orang Yahudi itu tewas di kamp-kamp konsentrasi dan kamar gas milik Nazi. Jika hal ini memang benar-benar terjadi maka hal ini patut disesali. Namun para penentang Holocaust mencium adanya ketidakberesan dalam klaim tersebut. Seperti yang diungkapkan Profesor Faurison dalam seminar Holocaust di Teheran, secara teknis pasukan Nazi tidak dapat melakukan pembunuhan masal sistematis orang-orang Yahudi di Eropa. Faurison yang sudah banyak melakukan riset tentang keberadaan kamar-kamar gas Nazi itu akhirnya menyimpulkan bahwa klaim kelompok Zionis soal Holocaust sangat tak mendasar.
Holocaust denial atau penyangkal Holocaust (biasanya disebut revisionisme Holocaust oleh para pendukungnya) adalah kepercayaan bahwa genocide orang-orang Yahudi dan kelompok-kelompok minoritas lainnya selama Perang Dunia II –masa Holocaust– tak pernah terjadi, atau apabila benar terjadi, akibat yang disebabkan tidak sebesar apa yang diyakini pada masa sekarang. Bahkan, ada dari para penyangkal Holocaust, yang sama sekali tak percaya atas korban pada masa Holocaust, “Bagaimana mungkin 6 juta orang Yahudi dibunuh pada masa Holocaust jika hanya terdapat 3 juta jiwa orang Yahudi pada saat itu?”
Ketua Lembaga Riset Adelaide Australia, Fredrick Toben mengatakan, Nazi pernah menggunakan gas Zyklon B di kamp tahanannya namun hal itu untuk mencegah meluasnya wabah yang saat itu menjangkiti para tahanan, dan bukan dalam pembantaian. Hal ini dilakukan bukan hanya kepada orang-orang Yahudi melainkan untuk seluruh tahanan. Seorang dosen universitas Tunisia, Doktor Muhammad Juwaili mengatakan, masalah kamar-kamar gas muncul secara mendadak pasca perang tahun 1967 antara Israel dan negara-negara Arab. Klaim keberadaan kamar-kamar gas itu digunakan Israel untuk mendapatkan bantuan finansial politik dan finansial internasional dalam perang tersebut.
Masih banyak lagi bukti-bukti yang dikemukakan para cendikiawan soal ketidakotentikan klaim Holocaust. Profesor Faurison kepada para pedukung Holocaust mengatakan, “Jika Anda meyakini kebenaran Holocaust, mohon berikan bukti yang jelas tentang hal ini. Kami sudah 32 tahun menunggu bukti-bukti tersebut dan hingga kini tak satu pun bukti yang dapat dipercaya. Selama ini, bukti yang ada, tidak faktual dan bohong.
Terlepas dari bukti-bukti soal Holocaust, banyak hal baru yang diungkap oleh para cendikiawan. Antara lain adalah masalah hubungan erat kelompok Zionis dengan para pejabat tinggi Nazi. Menurut keterangan Taisar Boshe, seorang peneliti asal Jordania, faktanya adalah bahwa orang-orang Yahudi sejak awal PD II bekerjasama dengan Hitler. Hana Arent seorang penulis Yahudi Jerman mengatakan, politik nasional sosialis Nazi terhadap kaum Yahudi adalah politik pemerintahan Hitler yang sepenuhnya mendukung kelompok Zionis. Berdasarkan bukti yang ada, hingga tahun 1941 para tokoh Zionis menjalin kerjasama ekonomi dengan Nazi dan setiap tahunnya orang-orang Yahudi di Jerman dipindahkan ke Palestina.
Menurut para pengamat, pasca PD II klaim pembantaian enam juta orang Yahudi sangat menuntungkan Rezim Zionis Israel. Jerman dan Rezim Zionis Israel pada tahun 1952 menandatangani kesepakatan ganti rugi kepada para korban Holocaust hingga tahun 2020. Uang ganti rugi itu juga mencakup lembaga-lembaga Zionis yang dirugikan Nazi. Kesepakatan tersebut selain merupakan diskriminasi terhadap warga Jerman juga bentuk pemerasan oleh Rezim Zionis Israel. Faurison menilai Holocaust sebagai sumber pendapatan lembaga-lembaga Israel. Menurutnya, selain Jerman masih banyak negara Eropa lainnya yang harus membayar uang ganti rugi kepada Israel.
Dalam seminar Review of The Holocaust Global Vision di Teheran, terbukti bahwa para penentang Holocaust memiliki banyak bukti untuk menafikan keotentikan klaim tersebut. Terdapat ratusan artikel dan puluhan buku yang menentang kebenaran Holocaust. Salah satu karya anti-Holocaust paling kontroversial adalah 21 jilid buku milik Germar Rudolf. Namun sebagai imbalannya, Rudolf dijebloskan ke penjara. David Irwing, seorang peneliti asal Inggris saat ini juga meringgkuk dalam bui karena penentangannya terhadap Holocaust.
Alhasil, Holocaust adalah mitos produksi Rezim Zionis Israel yang kini sudah mulai memudar. Ini hanya soal waktu saja...
Rujukan :
- http://swaramuslim.net
- indonimut.blogspot.com/2007/09/syak-wasangka-kebenaran-holocaust.html
- http://eramuslim.net
- Lobi Zionis & Rezim Bush (Teroris Teriak Teroris), Herry Nurdi

