Mengetuk Cintamu
(the end)
(the end)
"Bisa saja! Biar penasaranmu cepat tuntas. Biar penasaranku juga tuntas!"
Teguh tak langsung mengiyakan. Sebaliknya, lelaki itu terpekur beberapa lama. Kejadian-kejadian ini, belum-belum sudah membuat tubuhnya tak bertenaga. Akankah menyisakan keletihan yang lain?
"Penikahan, Guh! Pernikahan!"
"Kenapa dengan pernikahan?"
Riza nampak gemas. "Pernikahan itu bisa menjadi bahan bakar yang melejitkan kemampuan dan potensi seseorang! Trust me!"
Ia hanya tersenyum tipis dan menjawab kalimat Riza dalam hati, "Dan gagal menikah akan jadi duri yang hidup di jantungmu dan diam-diam mencuri umurmu!"
Lelaki itu tidak tahu, apakah senyum Riza dan perkataan trust me-nya yang membuat ia menuruti permintaan sahabatnya itu untuk berkemas. Atau, setitik harapan, biarpun setitik, tetaplah sebuah harapan dan lebih dari layak untuk diperjuangkan.
"Pakai bajumu yang terbaik" ujar Riza setengah memberi perintah.
Meski enggan, Teguh mengambil juga kemeja biru tua berlengan panjang dengan motif kotak-kotak.
Sebelum berangkat, Riza masih menyempatkan diri mengamati penampilan Teguh dengan kruk
di ketiaknya.
"Gimana?"
"Good! Ini baru sahabatku. Penuh semangat, penuh antusiasme, penuh..."
"Ri, cukup!"
Riza tertawa, kontan menghentikan ocehannya.
Sejam berikutnya, mereka sudah duduk berhadapan dengan Anggita. Gadis itu kelihatan jauh lebih kurus. Wajahnya yang oval lebih tirus dari biasanya. Menyadari rekaman yang detil dari memorinya, Teguh terkejut sendiri. Gadis ini terpatri dalam ingatannya lebih dari sosok manapun yang dikenalnya!
Maka, dengan mengucap bismillah, laki-laki yang beberapa menit tadi merasa darahnya beku, seolah tubuhnya digantung terbalik, mulai bicara. Ia tak berani menatap paras anggun Anggita sebab takut perubahan wajah gadis itu akan melemahkan semangatnya.
Entah kekuatan dari mana yang membuat ia terus bicara. Teguh seolah lupa akan pintu-pintu yang tertutup. Lupa soal kakinya yang cacat. Lupa kalau ia berhadapan dengan Anggita, perempuan pengusaha muda yang memiliki beribu pesona. Perempuan yang dalam hitungan detik kemudian, pasti merontokkan pertahanan yang belakangan ini dibangunnya, begitu ia bilang "tidak!"
Tapi, ajaib, Anggita bukan seperti permpuan lain yang dengan tak sabar mengatakan tidak. Sebaliknya, gadis itu malah menangis, terisak dan sulit dihentikan.
"Terima kasih" jawabnya sedikit terbata
"Untuk?"
"Kesediaan melamarku, Guh"
Teguh terpana. Kali pertama dalam sejarahnya, calon istri yang dilamarnya mengucapkan terima kasih
"Tapi?"
Teguh masih mengejar. Ia merasa kalimat Anggita belum final. Seterusnya pasti ada tetapi, akan tetapi atau mungkin namun... yang berujung dengan penolakan. Barangkali cara gadis ini lebih halus.
Namun, di depannya, Anggita menatap tak mengerti.
"Tapi?" kejar Teguh lagi, mebuat gadis itu tertawa. Bibirnya membentuk lengkung pelangi terbalik. Begitu indah di mata Teguh yang sederhana.
"Tidak ada tapi," jawab Anggita tegas, "ya, jika niatmu melamarku bukan karena fisik!"
Teguh melonjak di tempat duduknya
"Ini bukan soal fisik, Anggi"
"Terima kasih"
"Untuk apa?"
Anggita menyeka matanya yang basah dengan tisu. "Dulu sekali, Guh, mereka menganggap aku terlalu tinggi untuk dilamar. Sekarang, seandainya mereka tahu pun, entah kaum lelaki itu akan berbondong atau berlari menghindar"
"Kenapa?"
Anggita menatap dagunya, "tatap mataku, Guh. Tak apa"
Dua bola mata yang hitam, dengan lentik bulu mata, menatap kedua lelaki itu tanpa kedip. Tuhan.., bintik di mata Anggita kehilangan pendar. Teguh baru menyadari tatapan gadis itu sepenuhnya kosong. Mau tak mau ia terhenyak. Anggita tak bisa melihat? Sejak kapan?
"Aku kecelakaan, Guh"
Di kursinya, Teguh memejamkan matanya rapat. Dunia baru Anggita menjadi dunianya. Siapkah dia? Seumur hidup, Teguh mencari orang yang bisa mengerti dan menerima dengan lapang dada akan kekurangan fisiknya. Bisakah ia melakukan hal yang sama? Tak menuntut? Namun, sudah watak manusia, tak pernah mudah menundukkan ego!
Ruangan seperti kosong. Dunia berhenti berputar. Riza menunggu. Anggita menunggu. Sementara, Teguh berperang dengan egonya.
"Maafkan aku, Guh" bisaik Riza, melihat kegalauan di hati sahabatnya. Bukan niatnya mencarikan istri yang buta untuk Teguh. Ia sama sekali tak tahu.
Disampingnya, Teguh mengangguk. Rahang lelaki itu mengeras ketika menatap Anggita yang menitikkan ait mata.
"Anggi," suaranya kemudian terdengar serak, "aku akan menjadi matamu!"
Senyap. Riza terkejut di tempat duduknya. Anggita sebaliknya, tampak mengusap air mata yang tadi mampir di pipinya, tersenyum.
"Terima kasih, Guh." Lalu lanjutnya, dengan bola mata yang tiba-tiba gemintang, "dan maafkan aku. Tapi.. kemeja kotak-kotak birumu, aku suka!"
-- the end --
