Bukuku Kembali ^^ -- Part IV

Mengetuk Cintamu
(the end)


"Bisa saja! Biar penasaranmu cepat tuntas. Biar penasaranku juga tuntas!"

Teguh tak langsung mengiyakan. Sebaliknya, lelaki itu terpekur beberapa lama. Kejadian-kejadian ini, belum-belum sudah membuat tubuhnya tak bertenaga. Akankah menyisakan keletihan yang lain?

"Penikahan, Guh! Pernikahan!"

"Kenapa dengan pernikahan?"

Riza nampak gemas. "Pernikahan itu bisa menjadi bahan bakar yang melejitkan kemampuan dan potensi seseorang! Trust me!"

Ia hanya tersenyum tipis dan menjawab kalimat Riza dalam hati, "Dan gagal menikah akan jadi duri yang hidup di jantungmu dan diam-diam mencuri umurmu!"

Lelaki itu tidak tahu, apakah senyum Riza dan perkataan trust me-nya yang membuat ia menuruti permintaan sahabatnya itu untuk berkemas. Atau, setitik harapan, biarpun setitik, tetaplah sebuah harapan dan lebih dari layak untuk diperjuangkan.

"Pakai bajumu yang terbaik" ujar Riza setengah memberi perintah.

Meski enggan, Teguh mengambil juga kemeja biru tua berlengan panjang dengan motif kotak-kotak.

Sebelum berangkat, Riza masih menyempatkan diri mengamati penampilan Teguh dengan kruk
di ketiaknya.

"Gimana?"

"Good! Ini baru sahabatku. Penuh semangat, penuh antusiasme, penuh..."

"Ri, cukup!"

Riza tertawa, kontan menghentikan ocehannya.

Sejam berikutnya, mereka sudah duduk berhadapan dengan Anggita. Gadis itu kelihatan jauh lebih kurus. Wajahnya yang oval lebih tirus dari biasanya. Menyadari rekaman yang detil dari memorinya, Teguh terkejut sendiri. Gadis ini terpatri dalam ingatannya lebih dari sosok manapun yang dikenalnya!

Maka, dengan mengucap bismillah, laki-laki yang beberapa menit tadi merasa darahnya beku, seolah tubuhnya digantung terbalik, mulai bicara. Ia tak berani menatap paras anggun Anggita sebab takut perubahan wajah gadis itu akan melemahkan semangatnya.

Entah kekuatan dari mana yang membuat ia terus bicara. Teguh seolah lupa akan pintu-pintu yang tertutup. Lupa soal kakinya yang cacat. Lupa kalau ia berhadapan dengan Anggita, perempuan pengusaha muda yang memiliki beribu pesona. Perempuan yang dalam hitungan detik kemudian, pasti merontokkan pertahanan yang belakangan ini dibangunnya, begitu ia bilang "tidak!"

Tapi, ajaib, Anggita bukan seperti permpuan lain yang dengan tak sabar mengatakan tidak. Sebaliknya, gadis itu malah menangis, terisak dan sulit dihentikan.

"Terima kasih" jawabnya sedikit terbata

"Untuk?"

"Kesediaan melamarku, Guh"

Teguh terpana. Kali pertama dalam sejarahnya, calon istri yang dilamarnya mengucapkan terima kasih

"Tapi?"

Teguh masih mengejar. Ia merasa kalimat Anggita belum final. Seterusnya pasti ada tetapi, akan tetapi atau mungkin namun... yang berujung dengan penolakan. Barangkali cara gadis ini lebih halus.

Namun, di depannya, Anggita menatap tak mengerti.

"Tapi?" kejar Teguh lagi, mebuat gadis itu tertawa. Bibirnya membentuk lengkung pelangi terbalik. Begitu indah di mata Teguh yang sederhana.

"Tidak ada tapi," jawab Anggita tegas, "ya, jika niatmu melamarku bukan karena fisik!"

Teguh melonjak di tempat duduknya

"Ini bukan soal fisik, Anggi"

"Terima kasih"

"Untuk apa?"

Anggita menyeka matanya yang basah dengan tisu. "Dulu sekali, Guh, mereka menganggap aku terlalu tinggi untuk dilamar. Sekarang, seandainya mereka tahu pun, entah kaum lelaki itu akan berbondong atau berlari menghindar"

"Kenapa?"

Anggita menatap dagunya, "tatap mataku, Guh. Tak apa"

Dua bola mata yang hitam, dengan lentik bulu mata, menatap kedua lelaki itu tanpa kedip. Tuhan.., bintik di mata Anggita kehilangan pendar. Teguh baru menyadari tatapan gadis itu sepenuhnya kosong. Mau tak mau ia terhenyak. Anggita tak bisa melihat? Sejak kapan?

"Aku kecelakaan, Guh"

Di kursinya, Teguh memejamkan matanya rapat. Dunia baru Anggita menjadi dunianya. Siapkah dia? Seumur hidup, Teguh mencari orang yang bisa mengerti dan menerima dengan lapang dada akan kekurangan fisiknya. Bisakah ia melakukan hal yang sama? Tak menuntut? Namun, sudah watak manusia, tak pernah mudah menundukkan ego!

Ruangan seperti kosong. Dunia berhenti berputar. Riza menunggu. Anggita menunggu. Sementara, Teguh berperang dengan egonya.

"Maafkan aku, Guh" bisaik Riza, melihat kegalauan di hati sahabatnya. Bukan niatnya mencarikan istri yang buta untuk Teguh. Ia sama sekali tak tahu.

Disampingnya, Teguh mengangguk. Rahang lelaki itu mengeras ketika menatap Anggita yang menitikkan ait mata.

"Anggi," suaranya kemudian terdengar serak, "aku akan menjadi matamu!"

Senyap. Riza terkejut di tempat duduknya. Anggita sebaliknya, tampak mengusap air mata yang tadi mampir di pipinya, tersenyum.

"Terima kasih, Guh." Lalu lanjutnya, dengan bola mata yang tiba-tiba gemintang, "dan maafkan aku. Tapi.. kemeja kotak-kotak birumu, aku suka!"

-- the end --

Bukuku Kembali ^^ -- Part III

Wah, tak terasa sudah 3 sesi aja negh... pegel juga.. wokeh.. ini dia lanjutannya.. selamat membaca...


Mengetuk Cintamu
(the sequel)

"Apa kabar, Riza?"

"Alhamdulillah, baik, Mbak!"

Teguh merasa sahabatnya mestilah sudah gila mengajaknya kemari. Gadis di depannya punya lekuk wajah yang lebih dari cantik, juga dua bola mata yang tenang, menyiratkan kecerdasan. Dengan alasan apa Riza berpikir menjodohkannya dengan gadis berwajah bidadari ini?

"Ssst..., namanya Anggita"

"Ia lebih tua? Kamu memanggilnya mbak?"

"Psst..., bukan begitu. Itu hanya reflek. Aku merasa tak pantas memanggilnya cuma nama"

"Kenal di mana?"

"Oh," Riza menjawab dengan suara lebih pelan, "dulu pernah kupresentasi!"

Waduh!

Anggita hanya tersenyum saja mendengar keributan dua sahabat tadi.

"Mba Anggi ini punya usaha sendiri di bidang..."

Dalam sekejap, Riza menyebutkan seluruh kehidupan anggita yang luar biasa, melebihi public relation mana pun. Perkenalan yang membuat hati Teguh kian menciut. Di matanya, Anggita memiliki segalanya; kekayaan, paras yang cantik, kedudukan. Kemandirian gadis itu sungguh membuatnya rikuh. Lantas, apa yang membuat gadis sesempurna itu belum menikah?

"Bagi saya, pernikahan bukanlah sebuah penyelesaian suatu keadaan"

Setuju, timpal Teguh dalam hati

"Menikah adalah keputusan besar. Saya tidak bisa menikahi siapa pu yang hanya berlandaskan ketertarikan fisik semata karena, bagi saya, itu bisa sangat menipu"

Ya, Anggi benar. Tampaknya, sejauh ini mereka memiliki pemikiran yang sama.

"Pun karena alasan kemapanan atau status sosial. Saya tidak bisa menikah hanya demi memuaskan status sosial kalangan tertentu"

Ooo.. Bibir Riza dan Teguh membulat berbarengan. Menyadari itu, keduanya tersenyum malu. Untunglah Anggita tak melihatnya.

"Menikah adalah kebahagiaan hati, bukan begitu, Ri?"

Riza memerlukan waktu beberapa detik, sebelum dengan sedikit gagap menjawab, "Ya.. sepakat, Mbak!"

Setelah malam itu, Teguh dan Anggita menjadi lebih akrab. Mereka tak sering bertemu, lebih banyak bertukar kabar lewat e-mail. Waktu yang berlalu kian memupuk rasa kagum di hati Teguh Iman akan gadis yang satu itu.

"Lamarlah. Buat keputusan besar!"

Riza menyemangati. Teguh menggelengkan kepala.

"Aku masih trauma, Ri. Lha gadis-gadis yang di bawah standarnya saja menolak, apalagi dia. biarlah, setidaknya kami memiliki persahabatan yang unik"

"Wah, payah. Kamu tidak ingin dapat lebih apa?"

"Lebih?"

"Ya, memilikinya sebagai istri. Begitu"

"Bagaimana kalau ia menolak?"

"Maka kalian akan tetap berada pada persahabatan yang sekarang. Nothing to lose, Guh! Aku yakin, dia cukup bijak untuk itu. Pertanyaannya adalah, bagaimana jika ia menerima?"

"Masa?"

"Mungkin saja! Tapi, kita nggak akan pernah tahu kan?"

"Ya, kecuali mencobanya"

"Tepat!"

Malam itu, dengan berlapis-lapis keberanian, mereka mendatangi rumah Anggi. Tapi, pintu gerbang terkunci rapat. Satpamnya hanya berteriak tanpa membuka pagar.

"Bu Anggita ke Singapura"

"Sama siapa?"

"Saya nggak tahu, Mas!"

"Kapan pulangnya?"

Hening. Lalu, "Saya nggak tahu, Mas! Kesini aja lagi!"

Teguh merasa keberanian yang dikumpulkannya menguap. Apalagi, ketika esok dan esoknya, e-mailnya tak pernah dibalas gadis cantik itu. Tiba-tiba lelaki itu melihat pintu yang sedang coba diketuknya, kembali tertutup rapat. Deritnya menyanyikan melodi masa silam yang membuatnya nyeri tak hanya telinga, tapi juga jiwanya. Delapan minggu, ia tak mendapat kabar apa pun dari Anggita. Teguh sempat merasa tubuhnya tak menapak. Limbung. Tapi hari ini, ia mendapat e-mail. Syukurlah, gadis itu sudah di Jakarta lagi.

"Bagus, Guh! Langsung lamar sebelum dia pergi lagi!" nasihat Riza yang membuat laki-laki itu kontan grogi.

"Apa bisa?"

>>to be continued<<

Bukuku Kembali ^^ -- Part II

Mengetuk Cintamu
(the sequel)

Mutia menolaknya!

Setelah itu, pintu demi pintu yang lain menutup diri darinya. Maimunah yang perawat, Deisy-sepupu istrinya Riza, Rhina yang anak sastra Jerman, Vira yang ketua keputrian, adik kelas mereka, bahkan Sita, gadis hitam manis yang berkerudung, anak ibu kantin di kantornya. Semua menolak!

Awalnya tentu sangat menyakitkan bagi lelaki itu. Untunglah, Riza tak pernah meninggalkannya. Sahabat baiknya itu sesalu mengajaknya untuk kembali berpikir positif setelah mereka mendapat respons negatif dari gadis-gadis yang didatanginya. Sikap Riza benar-benar mewakili dunia networking yang digelutinya belakangan.

"Mungkin mereka belum siap ya, Guh?"

"Mungkin mereka masih mau kuliah."

"Mungkin..."

Berbagai dalih yang disampaikan dan diulang Riza, demi menjaga perasaan, akhirnya dipatahkan Teguh.

"Atau, mungkin mereka tak mau punya suami pakai kruk macam aku, Ri!"

"Guh..., jangan begitu!"

"Ini kenyataan. Dan, kalau perempuan terpilih macam mereka saja yang aktif dalam dakwah, yang shalihah, yang mengejar surga katamu, tak siap bersuamikan aku, bagaimana yang lain?"

Untuk pertama kali dalam persahabatan mereka Riza kehilangan daya menghibur sahabatnya. Ahh, apa yang salah dengan permpuan-perempuan itu? Tidakkah mereka melihat ketampanan Teguh? Matanya cerdas, dan memang laki-laki itu sangat cerdas. Tidakkah mereka melihat kemahiran Teguh berorasi? Wawasannya yang luas. Tidakkah?

"Ri, merekapun melihat aku cacat!"

* * *

Keletihan itu sungguh menguras batin dan energinya. Awalnya, ia masih mencoba berjalan. Meraih handle pintu-pintu yang dilewatinya. Tapi, beberapa tahun terakhir, Teguh merasa apa yang dilakukannya sia-sia belaka. Maka, lelaki muda itu pun mulai mengunci hati. Ia menyibukkan diri dengan berbagai tugas kantor, berbagai aktivitas kemasyarakatan. Ia tetap pribadi yang baik. Hanya saja soal mengetuk pintu hati perempuan menjadi hal sensitif yang menyisakan goresan perih.

Ia bahkan sudah berpikir untuk benar-benar menyerah. Dan itu mungkin, andai saja malam itu Riza yang sudah lama hilang, tidak tiba-tiba muncul dan mengusik dengan semangat khas orang-orang multi-level!

"Guh, ayolah. Jangan menyerah!"

Riza belum kapok juga menyemangati setelah tiga tahun mereka tidak bertemu. Dan, lelaki itu tak bisa menahan iba melihat pemanpilan Teguh yang jauh berbeda. Dulu, sebelum keberangkatannya ke daerah untuk tugas kantor, Teguh masih rapih dan klimis. Sementara, sosok di hadapannya sekarang...

"Kenapa wajahmu jadi penuh onak dan duri begini?"

Sahabatnya tertawa. Meraih kruk dan menggeser duduknya mendekati Riza.

"Kamu aneh Guh, pake cambang dan kumis begitu. Gondrong lagi!"

Teguh tak memedulikan. Tangannya meraih toples dekat meja dan membukanya untuk Riza.

"Rapih atau gondrong, apa bedanya bagiku, Ri?"

Riza menggelengkan kepala.

"Guh, jangan menyerah. Kamu tidak boleh patah semangat dong. Jangan berputus asa dari rahmat Allah! Masih banyak gadis-gadis di luar sana!"

Teguh tersenyum kecil.

"Ya, dan mereka semua menutup pintunya untukku. Sudahlah. Gimana kabar istri dan anak-anakmu?"

Obrolan mereka berlanjut ke hal-hal lain. Di luar penampilannya yang lebih kucel, Teguh masih sama. Simpatik, pintar ngomong, dan cerdas.

"Seandainya aku perempuan, Guh. Pasti..."

"Seandainya kamu perempuan, wuihh, aku tak berani membayangkannya. Pasti menyeramkan!"

Riza yang diserobot, terpingkal-pingkal.

"Guh, sekali ini saja. Please? Ikut aku?"

Teguh cepat-cepat menggeleng.

"Aku capek, Ri. Letih membayangkan orang-orang menampar pintunya depan mukaku"

Riza tidak setuju. Tangannya menunjuk ke lampu ruang tamu.

"Bayangkan Thomas Alfa Edison. Dia melakukan percobaan hingga ribuan kali, baru berhasil. Coba kalau ia menyerah dihitungan ke lima ratus, misalnya?" ujarnya gigih.

"Beri kesempatan satu kali ini. Ayolah!"

Dan, tanpa menunggu jawaban Teguh, Riza sudah menyiapkan segalanya. Ia sendiri yang memilihkan kemeja bertangan panjang untuk Teguh, lalu sepatu, celana panjang untuk mengganti sarung lusuh, dan terakhir alat cukur.

"Ya. Biar rapi. Cepat, kita tak punya banyak waktu!"

Satu jam kemudian, dua sahabat itu sudah berada di depan rumah megah. Seorang satpam membukakan pintu gerbang untuk mobil Riza, sebelum menutupnya kembali.

"Anak pejabat, Ri?"

"Bukan, Dia perempuan pengusaha. Orangnya begini!" Riza mengacungkan ibu jarinya, "top abis!"

Mereka tak menunggu lama dalam ruang tamu yang beralas karpet tebal. Seorang gadis berkerudung hijau pupus melangkah mendekati mereka, lalu tersenyum ke arah keduanya.

>>to be continued<<

Bukuku Kembali ^^

Long time not see...

Alo2.. apa kabar? Akhirnya w bisa posting juga... Ada kabar baik dan kabar buruk yang akan w sampaikan. Kabar buruknya -> W bosen!!! Ya Alloh... ampe2 waktu buat ngelamun dah kagak ada.. wekekek... task w numpuk... meraung2 minta diselesaikan.. tapi tak kunjung selese... semakin hari.. semakin kusut... *forget it*

Sedang kabar baiknya adalah salah satu buku w ketemu^^ Tadinya w dah mengira2 (baca : suudzon) sapa cah gendeng yang minjem buku w nggak dibalik2in sampe w lupa sapa yang minjem... wekekek.. maap yak maap.. ternyata ada di rumah bude w :D

Well, buku itu berjudul "Cinta Laki-Laki Biasa". Pasti nggak asing buat yang suka baca cerpen2nya Asma Nadia. Yups.. di dalam buku itu memang ada judul cerpen serupa.. Tapi2.. itu bukan cerpen paporit w.. ada yang lebih gress dan lebih ngetaste.. Sembari mengisi kekosongan blog ini.. dan untuk berbagi taste dengan kawan2.. akan w posting ceritanya.. tapi w bagi dalam beberapa sequel yak soale ini termasuk kategori cerpenrajang (cerita pendek rada panjang) wekeke.. Wokeh... here we go!


Mengetuk Cintamu

Teguh betul-betul lelah. Kakinya terasa semakin berat. Ia tak kuat lagi melangkah. Apalagi, mencapai pintu-pintu yang berdiri kokoh dan menyambutnya dingin. Ia bahkan tak berani lagi berharap akan ada pintu yang terbuka lebar dan merangkulnya tulus.

Salahkah jika ia ingin berhenti saja dan tak seteguh harapan orang banyak?

Wajah Ayah Ibunya terpatri jelas di benaknya, semangat yang mereka alirkan. Nenek bilang nama teguh yang diberikan Ayah dan Ibu sudah dipatok jauh-jauh hari.

"Bahkan sebelum kau lahir!"

Di saat-saat lemah dalm kesendiriannya, lelaki berusia tiga puluh lima tahun itu sering tertawa frustasi. Ayah dan Ibunya sudah lama meninggal, tapi mereka masih menyisakan beban namanya. Bagaimana ia bisa berlemah diri kalau embel-embel lain dari namanya adalah Iman? Teguh Iman, begitu lengkapnya.

Waktu kecil, limpahan kasih dari Ayah dan Ibu membuat Teguh nyaris tak merasa minder akan kekurangan fisiknya. Beranjak besar dan melihat kenyataan masalah fisik yang membekapnya, ternyata jauh lebih serius dan bukan sekedar organ yang belum berkembang, ia mulai panik. Tapi naungan Islam, lingkungan baru kemudian mendekapnya, membuat cowok usia delapan belas tahun itu pasrah.

Tuhan pasti punya skenario besar untuknya. Pasti.

Dengan kepercayaan itu, dulu ia menjalani hari-hari sekolahnya. Lelaki bertubuh tegap, dengan hidung mancung, dan maa coklat itu menjalani takdir dengan semangat. Ia tampan. Cerdas pula. Kekurangan satu-satunya cuma...

"Le, jangan dipikirkan. Fokuslah pada kelebihanmu. Jangan meratapi kekurangan!"

Ibu yang bijak. Lalu, Ayah yang selalu siap dengan jempol teracung untuknya.

"Anak Ayah paling hebaaat!"

Semua orang sepertinya selalu siap menghiburnya.

"Optimis, Guh.., optimis!"

Riza, temannya satu kampus pun tak kurang memompakan semangat dan berusaha mengalirkan
kepercayaan diri setiap dilihatnya Teguh termenung meratapi kekurangannya.

"Apa ada muslimah yang mau jadi istriku ya, Ri?" tanyanya gamang.

Dan, Riza dengan tawa khasnya selalu mengalirkan hawa optimis. "Kamu ada-ada aja, Guh!"

"Hey, aku serius!"

Mereka sudah di tahun ke lima kuliah. Mendekati wisuda. Teman-teman sekampusnya sudah banyak yang menikah, bahkan ada yang di tahun-tahun awal kuliah. Wajar kalau lelaki itu mulai cemas.

"Pasti ada, Guh!"

"Dengan kaki begini?" Teguh menunjuk sebelah kakinya yang mengecil tak imbang. Kaki itu mengharuskannya kemana-mana dengan kruk. Cacat sejak lahir kata Nenek.

"Guh, perempuan menikah denganmu karena iman, karena percaya mereka tak perlu suami dengan dua kaki untuk menuntun mereka ke surga. Perempuan seperti itu pasti ada!"

Tatapan ragu Teguh dibalas tepukan di bahu, menenangkan.

"Guh, tenang. Kita punya banyak aktivis dakwah yang ikhlas! Mereka bukan orang-orang yang fisik oriented!"

Benarkan?

Malam itu, Teguh berdandan rapih, membuktikan kalimat yang diucapkan Riza dengan sangat optimis. Sahabatnya yang telah menikah dua bulan lalu, memprakarsai diri untuk mencarikan calon istri untuknya.

"Seperti apa dia itu, Ri?"

Riza tampak berpikir. Beberapa detik berlalu dan ia masih kelihatan berpikir sangat keras.

"Hey..."

Teriakan Teguh dijawab dengan tawa meledak Riza. Ah, dia memang teman sejati.

"Orang manis, kulit kuning, pendidikannya D-3. Nggak masalah kan?"

Teguh mengedikkan bahu. Ia tahu banyak temannya yang mensyaratkan pendidikan harus S-1 untuk calon istri. Tapi, hal itu sama sekali tak berlaku untuknya. Ia bahkan tak punya syarat apa-apa, kecuali bahwa perempuan itu bisa berlapang dada terhadap keadaan fisiknya.

"Guh, jangan melamun! Kita harus cepat-cepat pergi sebelum calon istrimu digaet orang. Oke?"

Dengan kendaraan Riza, mereka akhirnya sampai ke tempat calon istri. Mutia namanya, mengingatkan Teguh akan sosok tegar pahlawan perempuan dari Aceh.

Ini fase perkenalan. Ta'aruf orang bilang. Fase kenal bagi dua orang yang ingin menikah.

Waktu serasa lambat, kala dua sahabat itu duduk menunggu di ruang tamu yang diterangi bohlam sepuluh wat. Ketika akhirnya Mutia muncul dan tersenyum manis sambil mengucap salam, Teguh merasa dunianya bersinar.

Barangkali Rizal benar, pikir Teguh sambil matanya mengawasi Mutia yang berbicara dengan pandangan tertunduk, perempuan shalih tak memandang fisik.

Mereka berbicara panjang lebar. Diskusi tentang macam-macam. Saat itulah, ketika Teguh dengan susah payah bangkit menyambut Mutia yang tangannya penuh nampan toples, mata gadis itu tertubruk pada kruk kayu di ketiak laki-laki itu. Raut manisnya yang pias tertangkap basah. Teguh tak akan lupa.

Laik masa kenal dan dilihat, ia memang tak beroleh jawaban malam itu. Tapi, Teguh merasa lebih dari bisa menebak. Dan dugaan lelaki itu ternyata tepat....

>> to be continued <<