Asw. Wr. Wb.
Kadang neh, kalo dah cape nabrakin diri, gw pilih alternatip lain untuk jalan ke Kebon Jeruk >>> Naik Bis. Yoeh. Dari Jatibening, langsung naik yang ke arah Merak/Tangerang terus turun di pintu tol Kebon Jeruk, terus tinggal jalan deh dikit. Bagi yang nggak mau bedaknya luntur, bisa pilih bis yang AC, cuma ya... beda di tarip, Rp. 5000 sekali jalan, lebih mahal Rp. 2000 dari yang non AC.
Jatibening memang tempat khusus bagi orang yang mau naik bis via Jalan Tol. Keuntungannya : lebih cepet, kalau diitung2 ongkosnya juga lebih murah dari pada naik kendaraan umum kecil kayak metro atau koasi (terutama bagi yang bertujuan ke tempat2 jauh). Cuma ruginya : saingannya banyak! Jadi bagi anda yang nggak ada bakat alamiah untuk jadi pelompat indah *jadi inget atlet kelasan* ya... agaknya mesti mengurungkan niat naik bis dari sini. Mana kalo tiap pagi pasti ada aja polisi yang mejeng (minta dipoto) yang bikin bis2 nggak bisa berenti lama, atau bahkan nggak berenti sama sekali. Sekalinya dateng bis yang ditunggu2 (apalagi yang on demand kayak yang ke arah Merak, Priok, Thamrin, Kp. Rambutan etc.) langsung deh dikerubungin... hiyaaa.... ngicir sana... ngicir sini... Pernah sekali2nya gw naik pas lagi penuh bgt (monday) dan gw mesti naik pake tangan bukan pake kaki!!! Lw tau kan, yang gaya simpanse naek ke puun... jadi tangannya naik duluan... meraih pegangan deket pintu lalu..... auuuoooooo berayunlah gw kayak diego (sepupunya dora), mantab!
Tapi tunggu! Jika anda naik sekarang... kami akan memberikan bonus tambahan ---> berdiri sampai tempat tujuan! Okeh, kalo tadi gw melakukan sedikit pemanasan dengan tangan, kini giliran kaki gw yang harus bekerja menopang berat badan gw sendiri (mohon untuk tidak berkomentar ^_^) sambil sesekali nahan pas lagi ngerem... belum lagi keneknya bolak2 berasa bet kayak di catwalk... bagus dah pokoke. Berasa banget jadi orang Jakarta.
Tapi tunggu lagi! Jika anda sudah naik, kami akan berikan bonus cuma2 ---> pemandangan yang sangat fantastis. Okeh deh, inilah yang dimaksud dengan fantastis : laki2 yang duduk akan membiarkan perempuan yang nggak dapet tempat duduk untuk tetap berdiri di tempatnya. Cakep. Xixixi, nyok kita tes. Lakukan gerakan ke kiri dan ke kanan model cacing epilepsi seolah2 kaki dah mau patah (tapi emang bener sih) berdiri dari tadi. --Tidak ada respon-- Yang gw liatin satu2 langsung belagak melempar pandangannya entah ke luar jendela. Xixixi... lucu deh kamu!! *nangis darah*
What's it called in common? Emansipasi yah? Kalo inget emansipasi jadi inget buklet "Tragedi Kartini : sebuah pertarugnan ideologi". Okelah para lelaki yang nampan dan gagah perkasa berkumis gatot kaca itu ridho ngeliat wanita2 tua nan lemah ini berdiri *ngikik sendiri*. Toh gw nggak bisa nyalahin mereka juga, SECARA kesalahan mereka itu cuma satu : tidak tau malu, sedang kesalahan dari sisi wanita2 ini agaknya rada beratan : 1. datengnya telat, jadi nggak dapet tempat duduk dan 2. perempuan2 ini *berubah dulu jadi cowok, gw nggak kutikutan! kekekek...* memang dalam kesehariannya nyaring sekali meneriakan kalimat "yang aus... yang aus..." bah, salah, maksute meneriakkan semboyan "emansipasi dong! ini kan jaman emansipasi! kita juga boleh!"
Siaul. Asal ngejeplak aja emansipasi. Gw nih jadi kena imbasnya!!!
Okeh, sebenernya apa sih emansipasi itu?
Emansipasi berasal dari bahasa latin “emancipatio” yang artinya pembebasan dari tangan kekuasaan. Di zaman Romawi dulu, membebaskan seorang anak yang belum dewasa dari kekuasaan orang tua, sama halnya dengan mengangkat hak dan derajatnya *edan*. Adapun makna emansipasi wanita adalah perjuangan sejak abad ke 14 M, dalam rangka memperoleh persamaan hak dan kebebasan seperti hak kaum laki-laki (Kamus ilmiah Populer hal 74-75). Jadi para penyeru emansipasi wanita menginginkan agar para wanita disejajarkan dengan kaum pria di segala bidang kehidupan.
Namun tujuan emansipasi Kartini sebenarnya bukan demi memperoleh persamaan hak dengan kaum pria secara total. Karena apabila hak kaum wanita disamakan dengan pria, malah akan merugikan pihak wanita! Karena kalo hak mau sama, kewajiban juga pasti jadi sama *gw sih ogah.. bweheheh*. Begitu pula sebaliknya, hak kaum pria, secara kodrati, juga mustahil disamakan dengan wanita akibat realita kewajiban masing-masing jenis kelamin dengan latar belakang biologis kodrati yang tidak sama. Pola salah kaprah emansipasi inilah yang membuat wanita-wanita "yang kelihatan pintar dan berkelas" itu menjadi kehilangan kehormatan dan fitrahnya sebagai seorang wanita *ckckck.. keren bangaet bahasa gw* Emansipasi salah kaprah ini pun menjadi salah satu pemicu kebobrokan suatu bangsa karena label "kebebasan untuk wanita" yang ditawarkannya dimanfaatkan oleh orang2 yang tidak bertanggung jawab untuk kepentingan2 pribadi (yang menyimpang), misal: banyak produk2 komersil yang banyak mengeksploitasi wanita sebagai "tameng" dagangannya. Yang begini nih yang bikin mental cewek jadi pada mental. Wanita2 tipe follower berbondong2 mengikuti model2 cantik yang mereka liat di tipi. Masing2 saling bersaing menjadi yang paling... apalah itu namanya. Ujung2nya... ya jadilah celah budaya barat masuk mencemari budaya timur yang santun.
Kartini tidak pernah mengajarkan emansipasi wanita yang didefinisikan sebagai wanita harus keluar berkarier menjadi pesaing para pria di berbagai lapangan kehidupan, untuk kemudian membiarkan anak-anak dan rumah-tangganya terbengkelai. “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan bagi anak-anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” (Surat Kartini kepadaProf. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902).
Bila Kartini masih hidup, dan menyaksikan betapa luar biasanya prestasi wanita Indonesia di ruang publik, mungkin dia akan tersenyum. Mereka tak kalah bersaing dan tak tertinggal lagi dari kaum Adam. Namun, bila melihat kenyataan lain dari perkembangan emansipasi yang digulirkannya dahulu, mungkin ia akan berkata, "Kalau begitu perempuan lebih baik di rumah saja. Emansipasi seharusnya meningkatkan 'harga diri' atau adanya persamaan hak, bukan untuk melecehkan diri sendiri." (dikutip dari Hikmah-Republika, 17 April 2005)
Cukup ceritanya, kembali ke kisah hidup gw (yang sangat (tdk) penting), yowis lah kalian pria pada2 kalo mang nggak mau bangun, gw nggak napa2 kok... hiks... hiks... *eh ada yang bangun... -- ternyata emang mau turun -- bwehehehe gw kirain!*, setibanya di pintu tol Kebon Jeruk gw perlu waktu sekitar 5 menit untuk sejenak istirahat ngelemesin otok kaki --dengan-- mendatangi seorang tukang roti. *backsound : kucing garong -- Yan! Jangan joget! Pokoknya jangan!* Ikzz... Happy ending. Perjuangan terbayar sudah. Akhirnya, saya tiba dengan selamat...
PESAN MORAL (berlaku bagi siapapun yang bermoral) : Untuk para wanita, ayo lanjutkan cita2 Kartini!! Ingat ya, Kartini! bukan yang lain!! ^_^
